Ekonomi

Harga Minyak Anjlok usai Kebijakan Lockdown Eropa


Jakarta-Harga minyak mentah dunia turun pada akhir perdagangan Kamis (15/10), berbalik dari kenaikan dalam dua hari beruntun sebelumnya. Pelemahan harga minyak dipicu oleh penguncian wilayah (lockdown) di sejumlah negara Eropa untuk membendung lonjakan penyebaran covid-19.

Mengutip Antara, Jumat (16/10), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember melemah 16 sen atau 0,4 persen menjadi US$43,16 per barel.

Sedangkan, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 8 sen atau 0,2 persen menjadi US$40,96 per barel.

Beberapa negara di Eropa kembali memberlakukan jam malam dan lockdown untuk melawan lonjakan kasus baru virus corona. Inggris memberlakukan lockdown lebih ketat di London mulai hari ini.

Analis pasar senior di OANDA New York Edward Moya menilai kondisi tersebut bisa memperlambat pemulihan ekonomi dan menekan permintaan minyak mentah. Permintaan diprediksi kembali lesu akan memaksa OPEC+ untuk menunda pelonggaran pengurangan produksi minyak.

"Lonjakan virus corona memaksa Eropa mengaktifkan kembali pembatasan dan itu melumpuhkan perkiraan permintaan minyak mentah jangka pendek," katanya.

Sebelumnya, kerugian berkurang usai Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan kenaikan permintaan minyak AS pekan lalu. Kenaikan ini membantu mengurangi stok minyak mentah.

Sementara itu, persediaan minyak turun dalam jumlah terbesar sejak 2003 karena Badai Delta memotong produksi minyak dan menutup kilang-kilang di Gulf Coast. "Laporan (EIA) menghentikan penurunan (harga)," tutur direktur energi berjangka di Mizuho, New York Robert Yawger.

OPEC dan sekutunya atau OPEC+ akan menurunkan pemangkasan produksi pada Januari sebesar 2 juta barel per hari (bph), dari 7,7 juta bph saat ini.

Komite teknis bersama OPEC+ yang mencakup perwakilan dari produsen utama OPEC+, seperti Arab Saudi dan Rusia, bertemu meninjau kepatuhan dengan pengurangan produksi minyak globalnya.

Sekretaris Jenderal OPEC mengatakan permintaan pulih lebih lambat dari yang diharapkan dan OPEC+ akan memastikan harga minyak tidak turun tajam lagi.

"Tampaknya, Arab Saudi semakin tidak sabar, baik karena kurangnya kepatuhan dari pihak lain maupun harga minyak yang rendah," imbuh kepala pasar minyak di Rystad Energy Bjornar Tonhaugen. (rep05)


[Ikuti Riaudaily.com Melalui Sosial Media]