Riau

Hari Ini, Jamaah Wukuf di Arafah

ilustrasi

PEKANBARU - Jamaah asal Provinsi Riau dan jutaan jamaah lainnya dari seluruh pelosok dunia, hari ini, Senin (14/10), melakukan puncak ibadah haji, wukuf di Padang Arafah. Jamaah haji yang sedang sakit akan disafariwukufkan.

"Saat ini para jamaah sudah memasuki tahapan puncak dalam ibadah haji. Wukuf akan dimulai pukul 13.00 waktu setempat," tutur Kepala Bidang (Kabid) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah Riau, Aziz kepada Metro Riau, Minggu (13/10).

Satu jamaah Kelompok Terbang 9 Embarkasi Batam atas nama Arifin Ahmad asal Kabupaten Rokan Hilir, Riau, terpaksa disafariwukufkan lantaran kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Sementara jamaah haji lainnya dalam kondisi sehat dan dapat melaksanakan wukuf.

"Pak Arifin Ahmad berasal dari Rohil, kondisi kesehatannya tidak memungkinkan jadi terpaksa disafariwukufkan. Sementara yang lain sehat," ujar petugas haji Kloter 9 Embarkasi Batam, Sudirman Mot.

Istilah safari wukuf dipergunakan untuk jamaah haji yang karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan, maka akan mendapatkan perlakuan khusus. Untuk bisa mendapatkan safari wukuf, harus dicek dulu oleh petugas setempat sejauh mana tingkat kesehatan mereka.

Begitu petugas menyetujui yang bersangkutan harus safari wukuf, maka kepada jamaah haji bersangkutan akan melaksanakan wukuf dengan ambulan. Waktu wukufnya pun tidak selama wukuf jamaah haji biasanya melainkan lebih singkat.

Kemarin, deru bus dan bunyi klakson merajai lalu lintas di Mekkah. Kemacetan tidak terelakkan mengiringi keberangkatan jamaah haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia menuju Arafah.

Seperti dilansir detikcom, kepadatan lalu lintas terjadi di Jalan King Fahd. Bus-bus yang mengantar para tamu Allah itu antre panjang saat hendak menuju terowongan King Fahd menuju Mina dan Arafah.

Beberapa jamaah haji juga terlihat berjalan kaki memasuki areal terowongan King Fahd. Jamaah membawa tas berisi perlengkapan selama di Arafah.

Sejumlah pedagang menjajakan barang-barang keperluan jamaah haji mulai dari payung hingga tikar. Ada pula sekelompok pemuda yang menawarkan jasa kursi roda kepada jamaah.

Jadwal pemberangkatan jamaah haji dari Satuan Operasional Armina Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menunjukkan pemberangkatan jamaah haji Indonesia dibagi dalam dua kelompok dan berdasarkan urutan maktab.

Kelompok maktab 1 sampai 50 melalui pintu satu dan maktab 50 sampai 100 melalui pintu tiga Arafah. Jamaah haji dijadwalkan berangkat menuju Arafah pada Minggu mulai pukul 07.00 WAS dan terakhir pukul 12.00 WAS.

Bus pertama memberangkatkan jamaah haji dari Maktan 1, 2, 16, 51, 52 dan 57 dari wilayah Mahbas Jin, Aziziah, Jumaizah. Bus terakhir, membawa rombongan dari Maktab 43, 44 dan 45 yang mencakup wilayah Misfalah dan Bakhutmah.

Kepala Seksi Pengamanan Daerah Kerja Mekkah, Asep Abdulah mengatakan jamaah haji yang meluncur ke Arafah secara perdana yakni jamaah haji Kloter 4 Palembang sektor 3 berangkat pukul 09.00 WAS dan Kloter 4 Batam sektor 3 berangkat pukul 08.30 WAS.

Setiba di Arafah, jamaah haji Indonesia akan menempati 48 maktab dengan nomor maktab 1 hingga 100. Mereka akan menjalani wukuf di Arafah hingga Senin petang.

PPIH Bidang Kesehatan pun meluncurkan layanan kesehatan baru berupa Tim Evakuasi Tanpa Alat (TETA). "Tim dibuat untuk memaksimalkan pelayanan selama masa puncak haji," ujar Kepala Bidan Kesehatan PPIH Arab Saudi, Fidiansjah seperti dilansir republika.co.id.

Menurut Fidiansjah, TETA beranggotakan 20 warga Indonesia yang bermukim di Arab Saudi. Mereka direkrut karena dinilai sudah menguasai lokasi dan medan yang harus ditempuh para jamaah selama musim haji. Selain itu, tim yang dipilih dinilai memiliki fisik yang bugar untuk membantu jamaah sakit.

Fidiansjah mengakui, jumlah anggota tim yang hanya 20 tak memadai bila dibanding dengan total jamaah haji Indonesia yang mencapi 160 ribu. Namun keberadaan mereka tetap diperlukan untuk memberi pertolongan darurat pada jamaah yang sakit, khususnya ketika berada di Jamarat, Terowongan Muaishim dan lokasi ibadah lain yang agak jauh dari balai kesehatan haji.

Dibanding tahun lalu, jumlah anggota TETA kali ini, kata Fidiansjah, lebih banyak. Tahun lalu tim hanya beranggotakan 10 orang. "Ini merupakan keseriusan kami untuk mendekatkan pelayanan kesehatan pada jamaah," katanya.

Ketua Tim Pengawasan dan Pengendalian Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pembentukan TETA merupakan bagian pemenuhan lima aspek layanan kesehatan selama ibadah haji.

Adapaun empat aspek lainnya adalah jamaah harus mampu menjaga kesehatan diri sendiri, adanya petugas kesehatan yang mendampingi setiap Kloter, penyediaan fasilitas berupa klinik kesehatan di Arafah dan Mina, serta kerjasama dengan rumah sakit Arab Saudi di Arafah dan Mina sebagai rujukan bagi jamaah yang membutuhkan penanganan lanjutan. (rep10)


[Ikuti Riaudaily.com Melalui Sosial Media]