Riaudaily.com - Jakarta - Polisi bergerak lamban dalam menangani kasus pelecehan seksual di Taman Kanak-kanak Jakarta International School. Jumlah korban diperkirakan masih banyak, dan pelaku diperkirakan bukan cuma petugas kebersihan sekolah mahal itu.
Salah satu orang tua korban yang pertama kali mengadukan kasus ini ke polisi mendapat firasat kasus ini akan mentok di kepolisian. Ia mengataka, awalnya kasus ini hendak dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan. "Saya batalkan karena ternyata JIS punya koneksi yang kuat di sana," kata ibu dua anak ini.
Lalu, ia melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Namun polisi tetap saja punya alasan macam-macam. Salah satunya adalah tak punya biaya untuk pemeriksaan kesehatan para petugas kebersihan. Para tersangka awalnya malah hendak dilepas. "Saya yang berinisiatif membiayai tes kesehatan itu," kata ibu korban.
Persoalan belum selesai. Polisi awalnya hanya menangkap dua tersangka, yakni Agun Iskandar dan Virgiawan Amin. Mereka melepas Afriska. "Saya disuruh mengubah pengakuan di BAP soal Afriska," kata ibu korban. Ia ngotot Afriska terlibat. Ia lebih mempercayai pengakuan anaknya yang mengatakan Afriska ada di lokasi kejadian.
Keteguhannya tak sia-sia. Afriska akhirnya dicokok setelah polisi menemukan rekaman adegan pelecehan itu di telepon seluler Afriska. Namun orang tua para korban tampaknya harus kerja keras. Sebab, disebut-sebut ada guru dan pelaku lain di JIS yang masih bebas.
Kepala Badan Reserse dan Kiriminal Komisaris Jenderal Suhardi Alius mengatakan pihaknya sangat serius menangani kasus ini, tapi tak mau gegabah. "Mana bisa sembarangan periksa darah orang," katanya. (rep01/tpc)