Gejolak ekonomi yang sedang melanda Indonesia, dinilai akibat tidak fokusnya pemerintah dalam mengembangkan sektor industri. Pemerintah kurang gigih dalam berupaya menarik investor masuk di industri Tanah Air.
Pakar Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengemukakan bahwa apabila pemerintah tidak segera mendorong arus modal masuk ke sektor industri, maka gejolak ekonomi akan menjadi hal yang rutin dirasakan Indonesia.
"Siap-siap lah 5 tahun krisis lagi," tegas Didik di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (6/11).
Didik memaparkan arus modal asing saat ini lebih banyak memilih masuk ke saham dan obligasi ketimbang ke sektor riil. Kondisi ini rentan terhadap gejolak.
"Ini bahaya, satu sms saja (provokasi) bisa bikin arus modal asing pergi. Kolaps kita," imbuh Didik.
Dengan demikian, arus modal yang masuk tidak banyak yang bertahan lama di Indonesia. Menurutnya, hal ini dipicu oleh tingkat suku bunga di Indonesia yang sangat menggiurkan.
"Di Indonesia itu suku bunga dan properti dibebaskan, sehingga mereka berternak uang saja. Salah satu biang keroknya adalah kebijakan sektor keuangan, selama tidak bisa merubah ini, ya arus modal tidak akan mengalir ke industri," jelas Didik. (rep10)