Survei Menyebut Korupsi di Dunia Semakin Buruk

Survei Menyebut Korupsi di Dunia Semakin Buruk

BERLIN - Satu dari dua orang berpikir bahwa korupsi memburuk dalam dua tahun terakhir. Hal itu berdasarkan jajak pendapat publik yang dilakukan Transparency International.

Seperti dilansir BBC, Selasa (9/7), barometer Korupsi Global tahunan Transparency International menemukan 27 persen responden mengatakan membayar suap ketika mengakses layanan dan institusi publik tahun lalu. Survei itu dilakukan di lebih dari 100 negara.

Bukti-bukti yang ditemukan mengindikasikan adanya pandemi global, penyakit yang menyebabkan infeksi, karat dan pembusukan. Sebagian besar orang tampaknya berpikir hal itu menjadi semakin buruk dan reaksi orang biasanya hanya sekedar mengangkat bahu karena berpikir bahwa itu adalah masalah orang lain.

Korupsi adalah sebuah tindakan, fakta kehidupan yang kebanyakan terjadi dalam kegelapan. Ada pihak-pihak yang berusaha membuka tirai tersebut, di antaranya Transparency International, kelompok aktivis yang berbasis di Berlin.

Survei terakhir mereka tentang korupsi meliputi 107 negara dan 114.000 orang. Dan sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa korupsi semakin parah dalam dua tahun terakhir.

Ada pula tren yang membuat depresi dan bisa ditebak. Ada kecenderungan membayar suap di negara miskin dibandingkan di negara kaya. Di satu dari tiga negara, suap terbanyak diterima oleh polisi. Di satu dari lima, institusi peradilan. Secara keseluruhan, satu dari empat orang di jajak pendapat mengaku mereka pernah melakukan suap.

"Korupsi bukan hanya tentang menyelipkan uang ke tangan pejabat. Partai politik, 'mesin pendorong demokrasi'," demikian TI menyebutnya, dianggap sebagai institusi publik terkorup.

Hal itu dikarenakan korupsi bukan cuma tentang suap. Hampir dua dari tiga orang mengatakan mereka percaya hubungan pribadi adalah apa yang membantu urusan di sektor publik lancar, satu dari dua orang mengatakan pemerintah mereka dijalankan oleh kelompok-kelompok dengan kepentingan tertentu.

Dan aroma korupsi tidak hanya menggantung di sekitar demokrasi atau ekonomi. Satu kalimat di Boston Globe dua bulan lalu cukup mengagetkan, anggota Demokrat yang baru terpilih di DPR AS diperintahkan oleh partai mereka untuk 'mendedikasikan sedikitnya empat jam sehari untuk mengumpulkan uang'.

Warga bisa saja berargumen bahwa itu bukan korupsi. Ini adalah perangkap terbuka. Ada peraturan yang melarang praktek quid pro quo. Tetapi survei TI menemukan bahwa masyarakat AS, dan juga Inggris, percaya bahwa korupsi semakin merajalela.

Dan di Inggris, media dianggap sebagai sektor terpenting dari kehidupan publik. Mereka berada nomor dua setelah partai politik.

Ada pula beberapa hal yang menyejukkan. Rakyat di Azerbaijan, Kamboja, Georgia, Sudan dan Sudan Selatan melaporkan bahwa korupsi menurun dalam dua tahun terakhir. TI menyatakan bahwa jika korupsi ingin diberantas, pemerintah harus membuat mekanisme akuntabilitas dan orang harus menolak membayar suap, kapan saja diminta dan di mana saja. (rep05)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index