Jakarta - Ketika menginap di hotel, kita tentu mengharapkan kualitas tidur yang baik. Namun, apa jadinya jika kamu justru tidak bisa tidur di saat menginap di hotel?
Hotel biasanya akan berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik bagi tamunya, seperti mempersiapkan kasur yang nyaman serta seprei yang bersih untuk beristirahat.
Namun, kenyamanan tersebut tidak menjamin seseorang dapat terhindar dari fenomena first night effect alias efek malam pertama.
Fenomena ini membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dan justru terbangun di malam hari. Kejadian ini bisa dialami baik oleh orang yang sering bepergian maupun orang yang jarang berlibur.
Seperti dikutip Euronews, seorang peneliti senior di bidang tidur dari University of Freiburg, Anna Wick, menganggap fenomena ini terjadi karena otak tetap berada dalam kondisi waspada ketika berusaha tidur di lingkungan baru.
Ahmad Mayeli dari University of Pittsburgh yang juga seorang peneliti tidur, mengatakan sebagian besar orang kemungkinan mengalami efek ini, meskipun tidak menyadarinya. Rata-rata, seseorang tidur sekitar 20-30 menit lebih sedikit ketika berada di lingkungan baru.
Dalam penelitian, ditunjukkan bahwa bagian otak yang berkaitan dengan tahap tidur paling dalam tetap aktif. Artinya, orang tersebut bukan hanya kekurangan jam tidur, tetapi tidak tidur sedalam biasanya.
Sederhananya, otak menganggap lingkungan baru sebagai tempat yang perlu diwaspadai. Meski tidur di hotel relatif aman, otak belum sepenuhnya beradaptasi sehingga berada dalam kondisi waspada. Untungnya, fenomena ini bisa berkurang setelah melewati malam pertama di hotel.
Lisa Strauss, seorang psikolog, menjelaskan ada faktor lain yang memengaruhi seseorang sulit tidur di tempat baru. Misalnya, perjalanan yang melelahkan.
Kualitas tidur seseorang bisa terpengaruh saat melakukan perjalanan yang melelahkan meskipun tidak berpindah zona waktu. Kondisi kamar saat tidur juga berpengaruh, seperti lampu indikator detektor asap yang berkedip atau suara yang mengganggu.
Selain itu, kondisi sosial juga memengaruhi kondisi tidur seseorang. Misalnya ketika menginap di rumah anggota keluarga yang hubungannya kurang dekat.
Orang yang memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi juga lebih rentan mengalami first night effect. Kekhawatiran seperti"Bagaimana kalau malam ini aku tidak bisa tidur?", justru dapat membuat seseorang semakin sulit tidur.
Strauss menyarankan beberapa cara agar bisa tidur di malam pertama, di antaranya:
- Tidur di ruangan yang sejuk dan gelap.
- Menjaga waktu tidur tetap konsisten.
- Memiliki rutinitas sebelum tidur.
- Mengurangi penggunaan layar sebelum tidur.
- Mulai menerapkan kebiasaan tersebut beberapa hari atau minggu sebelum perjalanan.
Strauss juga menyarankan agar wisatawan melakukan rutinitas yang membuat kamar hotel terasa familiar. Seperti, meluangkan waktu di tempat tidur untuk membaca atau bersantai seperti di rumah.
Selain itu, membawa banyak atau selimut favorit juga bisa membantu tidur lebih nyaman saat malam pertama.
Kehilangan sedikit waktu tidur pada malam pertama sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, kecuali jika memiliki agenda penting, Mayeli menyarankan untuk tiba di tujuan satu hari lebih awal agar tubuh bisa beradaptasi.**