Warga Rengat Peringati Tragedi Berdarah 5 Januari 1949

Senin, 05 Januari 2015 | 12:52:00 WIB
Rengat-Masyarakat Kota Rengat di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau pada 5 Januari 2015 akan memperingati tragedi berdarah 5 Januari 1949. Pada peristiwa tersebut, Sungai Indragiri memerah, menjadi saksi bisu keganasan tentara Belanda membunuh ribuan nyawa tak berdosa saat melancarkan Agresi Militer ke-2 di tanah Indragiri.
 
Dalam bukunya Lagu Sunyi Dari Indragiri, M Wasmad Rads, mantan Komandan Markas Bataliyon III, Resimen IV, Banteng Sumatera berpangkat Letnan Muda TNI AD menuturkan secara jelas tentang peristiwa 5 Januari 1949. Meski sudah tiada, namun buku biografi Wasmad Rads tersebut mampu memberikan gambaran tentang peristiwa berdarah tersebut.
 
“Hari itu seperti mimpi buruk. Ribuan orang tewas. Sungai Indragiri berwarna merah karena darah. Tentara atau warga ditembak paratroops (tentara Belanda) dibuang ke sungai. Lama warga tak mau makan ikan dari sungai karena sebelumnya ada ikan yang ketika dibelah dalam perutnya ditemukan jari mayat,” tutur Wasmad Rads dalam bukunya.
 
Sebagai Komandan Markas Bataliyon III, Resimen IV, Bateng Sumatera yang berkedudukan di Kota Rengat, Wasmad tahu betul bagaimana peristiwa bersejarah itu terjadi. Hari itu, tanggal 5 Januari 1949, sekitar pukul 06.00 Wib, dua pesawat Belanda jenis Mustang dengan cocor merah di depannya terbang rendah dilangit Kota Rengat yang baru diguyur hujan malam harinya.
 
Dua pesawat itu melayang-layang diantara kerumunan masyarakat yang akan memulai aktivitas. Sebelumnya sudah tersiar kabar bahwa tentara Belanda akan menyerang Kota Rengat sebagai upaya merebut kembali kekuasannya.
 
Kecemasan warga segera terjawab. Kedatangan dua pesawat Belanda itu bukan hendak mengantarkan berita baik, melainkan membawa bom yang ditembakkan begitu saja di pasar, jalan raya, rumah warga hingga markas tentara Indonesia. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.
 
Dalam hitungan detik, tubuh-tubuh manusia bergelimpangan, sementara darah bercecer dimana-mana. Sejumlah tentara berupaya melumpuhkan dua pesawat dengan menembakkan mortir. Namun upaya itu tidak terlalu membuahkan hasil. Justri markas tentara Indonesia yang di bombardir oleh Belanda.
 
Aksi dua pesawat Mustang yang mengebom setiap penjuru Rengat baru berakhir pukul 09.45 Wib. Begitu Pesawat Mustang menghilang dari langit Rengat, muncul kembali tujuh pesawat Dakota yang menerjunkan ratusan pasukan baret merah Belanda atau sering disebut Korp Spesialie Tropen (KST), pasukan terlatih Belanda yang telah mengikuti pelatihan di Batu Jajar, Bandung. Konon pasukan ini dilatih langsung oleh Kapten Westerling yang terkenal keji dan kejam. Pasukan ini diterjunkan di daerah Sekip yang berawa-rawa dan selama ini tidak begitu terjaga oleh tentara republik.
 
“Perhatian kita benar-benar terpecah. Antara menghadang laju pasukan penerjun dengan korban yang bergelimpangan. Seorang ibu memeluk tubuh anaknya yang tercabik-cabik. Ada juga wanita yang berteriak histeris didepan putrinya yang terluka parah. Entah siapa yang mau ditolong terlebih dahulu. Masuk ke lubang perlindungan disana sudah ada mayat-mayat dan korban yang terluka parah. Terlintas dalam pikiran saya jika serangan itu terus dilanjutkan, maka menjelang petang mungkin seluruh penduduk Rengat sudah musnah,” dalam bukunya.
 
Warga Rengat yang sudah panik dan kacau balau karena serangan udara, tiba-tiba sudah berhadapan dengan pasukan terlatih dan bersenjata lengkap. Serangan pasukan Belanda tersebut teramat cepat. Akibatnya banyak warga dan tentara yang tewas, sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama pasukan Belanda sudah berhasil mendekat ke Batalyon dan mengusai Rengat.
 
“Belanda menembak apapun yang bergerak. Sisa-sisa prajurit dan warga yang bersembunyi dalam gorong-grong diberondong. Korban jatuh dari berbagai kalangan termasuk Bupati Tulus, Wedana Abdul Wahab, Kepala Polisi Korengkeng. Ada yang memperkirakan korban yang tewas mencapai dua hingga tiga ribu orang hari itu,” ungkapnya.
 
Tidak cukup sampai disitu, Belanda juga menangkap pegawai pemerintahan dan sisa-sisa laskar. Mereka kemudian di bariskan menuju lapangan, disuruh baris berjajar dan ditembak tanpa proses interogasi. Belanda juga membentak warga yang masih hidup dan meminta mereka mengumpulkan seluruh mayat untuk ditumpuk begitu saja ditepian Sungai Indragiri. Jasad para korban yang jumlahnya ribuan itu lantas dilemparkan ke sungai yang tengah mengalir deras.
 
Dalam situasi serba tak menentu, Wasmad bersama Letnan Satu Himron Suherman dan Letnan Muda Thamsur Poad begerak ke pinggir hutan sambil berupaya mencari sisa-sisa tentara. Namun yang selamat ternyata hanya mereka bertiga. Ketiganya kemudian sepakat berpencar karena kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk menghimpun kekuatan dalam waktu singkat. Namun Wasmad tetap nekat untuk bertahan didalam kota mencari informasi pasukan yang masih tersisa guna menghadapi Belanda.
 
Menjelang petang, situasi di Kota Rengat terus memburuk. Belanda kembali menurunkan pasukan Baret Hijau dalam jumlah besar. Mereka diperkirakan tiga kompi atau sekitar 350 orang. Pasukan ini datang dari Tembilahan melalui jalur sungai.
 
Wasmad berupaya menyelamatkan diri dengan cara bergerilya. Dalam perjalanan menyusuri sungai dan hutan ia bertemu dengan para pejuang lainnya. Namun pada tanggal 11 Januari 1949, Wasmad berhasil ditangkap pasukan Belanda di rumah orangtua angkatnya di daerah Sekip. Ia ditangkap seregu tentara KNIL dibawah Komando Tomasoa.
 
Wasmad kemudian digelandang ke dalam sel. Dalam tahanan, Wasmad bertemu dengan sejumlah tentara republik yang telah lebih dulu ditangkap. “Penjara adalah mimpi buruk. Kami mendapatkan beragam siksaan. Banyak yang tewas dalam siksaan itu. Seingat saya yang tewas adalah Sersan CPM Tamrun. Sedangkan Sersan CPM Ponco sempat lari dari penjara, tetapi ia berhasil di tembak mati Belanda di hutan daerah Sekip,” ucapnya.
 
Wasmad tidak menyangka bisa bebas dengan selamat dari penjara Belanda. Pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda membebaskan seluruh tahanan perang seiring dengan penyerahan kedaulatan Belanda kepada Pemerintah Indonesia. Wasmad dan rekan-rekannya yang ditahan di bawa ke Taluk Kuantan untuk ditukar dengan tentara Belanda yang menjadi tahanan tentara republik. Keesokan harinya, Wasmad kembali ke Rengat. Ia kemudian bekerja di Kantor Bupati Indragiri pada Bagian Umum Penerangan. Saat itu, Bupatinya Umar Usman. (rep05/mcr)

Terkini