Hari Kebangkitan Nasional

Wabup : Mari Berani Evaluasi Diri Sendiri

PELALAWAN - Momentum 1908 dan 1928 adalah momentum kaum muda yang bercita-cita Indonesia merdeka. Dengan pemikiran dan cita-cita berlanjut, maka pada periode tahun 1945-1949, para pemuda terus berjuang demi tegaknya bangunan ke-Indonesiaan yang merdeka dan berdaulat, melalui revolusi kemerdekaan yang membangunan nasionalisme tanpa pandang bulu dan menjadi motor penggerak mobilitas sosial bagi seluruh komponen bangsa. Sedangkan revolusi, memberi ruang dan peluang bagi setiap anak bangsa untuk berbakti, mengabdi dan berkiprah sesuai profesi, keahlian dan bidang yang digelutinya.
 
"Inilah makna nasionalisme sesungguhnya, yakni penerapan cara berpikir, bersikap dan berperilaku secara ideologis yang merupakan kristalisasi kesadaran berbangsa dan bernegara. Untuk itu, mari maknai kebangkitan nasional ini melalui kerja nyata dalam suasa keharmonisan dan kemajemukan bangsa," terang Wakil Bupati Pelalawan Drs H Marwan Ibrahim saat membacakan pidato tertulis Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dalam pelaksanaan upacara bendera peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke 106 tahun 2014 tingkat Kabupaten Pelalawan di lapangan Kantor Bupati Pelalawan, Selasa (20/5).
 
Marwan mengatakan bahwa momentum peringatan Hartiknas tahun ini memiliki beberapa makna yakni untuk mengimplementasikan nilai-nilai nasionalisme dalam karsa, cipta dan karya kekinian kita secara nyata.
 
"Artinya, nasionalisme bukan sekedar diskursus dan wacana yang sorak-sorai. Sedangkan makna nasionalisme kekinian bukan lagi kamuflase kerinduan romantisme perjuangan masa lalu, tetapi bagaimana kita mengimplementasikan romantisme perjuangan tersebut kedalam pola pikir, pola sikap dan perilaku kebangsaan selaras dengan tuntutan zaman," beber Marwan.
 
Diungkapkan mantan Sekda Pelalawan ini, bahwa membangun Indonesia baru di masa depan, adalah antitesis dari kepentingan kelompok dan individu, antitesis berpikir kedaerahan dan antitesis cara berperilaku kepartaian atau golongan.
 
"Namun demikian, Nasionalisme yang diperlukan adalah nasionalisme yang berkontribusi bagi kedaulatan dan harga diri bangsa kita," paparnya.
 
Selain itu, sambungnya, bahwa pada dasarnya bangsa Indonesia sangat menginginkan keharmonisan dalam perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan Nasionalisme terbangun bukan dari perilaku saling menuding, saling menyalahkan dan bahkan 
 
untuk saling menyingkirkan. Pasalnya, kekuatan kebangsaan tersemai dalam kohesivitas yang harmonis dari kekuatan dan energi potensi yang telah kita miliki.
 
"Dan komitmen untuk berbagi serta bersinergi dalam rangka mewujudkan cita-cita nasional itulah yang menjadi ukuran, sejauh mana karsa, cipta dan karya kita sudah memberikan kekuatan bagi terbangunnya keharmonisan perilaku kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang amanah," ujarnya.
 
Ditambahkan Wakil Bupati, bahwa kekuatan sebuah bangsa tercirikan dari bagaimana perbedaan dan kemajemukan dapat terkelola menjadi kekuatan. Dan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, maka niat mulia untuk menyatukan perbedaan-perbedaan yang dimiliki bangsa ini dilakukan. 
 
"Ya, sebagai Negara yang kaya akan keberagaman etnis, suku, budaya dan agama, kita menyadari bahwa kohesivitas kesadaran akan keragaman senantiasa harus terjaga secara terus menerus dan berkesinambungan. Sedangkan nilai-nilai toleransi akan perbedaan serta kemajemukan yang tumbuh berkembang atas dasar komitmen dan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tidak boleh luntur sampai kapanpun," sebutnya.
 
Namun demikian, lanjut Marwan, fenomena kemajemukan yang bergulir akhir-akhir ini, tampaknya sedikit mengalami penggerusan dari hakekat nasionalisme itu sendiri. Pasalnya, semangat persatuan demi menjunjung tinggi sikap nasionalisme yang dulu didambakan dan dibanggakan, kini menjadi kekhawatiran seluruh masyarakat bangsa Indonesia. Selain itu, konflik antar etnis, antar agama, tawuran antar pelajar dan antar warga, konflik horizontal dan gangguan keamanan yang masih sering terjadi serta permasalahan lainnya, merupakan fenomena kebangsaan yang perlu disikapi secara hati-hati.
 
"Untuk itu, melalui momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2014 ini, maka semangat untuk berani melakukan evaluasi diri, semangat bagi penguatan komitmen seluruh komponen dan potensi bangsa dalam membangun Indonesia kedepan yang lebih baik harusdigalakkan dan diwujudkan. Jadi, mari kita maknai peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini dengan karya nyata yang dilandasi rasa nasionalisme yang sesungguhnya,"tutupnya. (rep07)

[Ikuti Riaudaily.com Melalui Sosial Media]