Inspirasi

Ini Dia Cara Mudah Memahami Kandungan Al-Fatihah

Jakarta-Di Indonesia terdapat belasan buku dengan tema Al-Fatihah. Namun, buku berjudul "Paradigma Al-Fatihah" yang ditulis oleh DR M Masri Muadz MSc ini, merupakan buku pertama yang menggunakan pendekatan berpikir sistem. 
 
Pedekatan sistem inilah yang membuat buku setebal 589 halaman, yang diterbitkan oleh Indovertical Point pada bulan September 2013 ini, menjadi unik dan memiliki beberapa kelebihan dibanding buku Al-Fatihah yang lain. Dilihat dari metodologi, pembahasan dan terutama kesimpulan yang diperoleh.
 
Dari segi metodologi, buku ini mencoba memahami kandungan Al-Fatihah dari empat konteks:
 
Pertama, keseluruhan sistem kehidupan, yaitu sistem Alquran, sistem sosial dan sistem semesta. Kedua, keseluruhan makna ayat-ayat Alquran. Ketiga, Al-Fatihah sebagai sistem pedoman hidup, yaitu pola, substansi, proses dan makna sistem; dan keempat, peranan dan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi.
            
Dalam konteks keseluruhan sistem kehidupan, terdapat pola hubungan fungsional antara Alquran, manusia dan alam. Yaitu manusia sebagai khalifah, Alquran sebagai pedoman kekhalifahan dan alam sebagai sumber daya pendukung tugas kekhalifan manusia. 
 
Dalam konteks ayat-ayat Alquran, Al-Fatihah merupakan kapsulasi dari seluruh makna Alquran, dan seluruh makna Al-Fatihah, dikondensasi ke dalam makna Basmalah, ayat 1 Al-Fatihah. 
 
Dan dalam konteks Al-Fatihah sebagai sistem pedoman hidup, maka penegakan shalat yang khusyu merupakan inti maknanya. Agar manusia dapat menjalankan tugas-tugas kekhalifahan sesuai dengan petunjuk Alquran, maka pembelajaran adalah suatu yang niscaya dalam hidupnya. 
 
Alquran menggunakan pendekatan deskriptif dan matematis dalam menyampaikan pesan-pesannya. Pesan deskriptif seperti narasi dalam 114 surahnya, dan pesan matematis seperti struktur angka 7 dan 19 yang dijumpai dalam bangunan ayat-ayatnya.
            
Lebih unik lagi, penulisnya memposisikan pemahaman Al-Fatihah sebagai paradigma. Yaitu paradigma Al-Fatihah yang akan mendorong seseorang menempuh kehidupan sesuai makna Al-Fatihah. Seperti berdzikir dan bersyukur, menegakkan shalat dan doa, amar ma’ruf nahi mungkar dan berakhlak mulia. 
 
Sehingga paradigma Al-Fatihah akan menjadi solusi terhadap paradigma Fatamogana. Yaitu pemahaman dan paraktik hidup yang tidak sesuai dengan hidayah Allah SWT. Seperti korupsi, selingkuh dan seks pra dan di luar nikah, narkoba serta berbagai kemungkaran lain, yang semakin meningkat akhir-akhir ini.
            
Buku ini menjadi aplikatif, karena setelah menguraikan pola, substansi, proses dan makna makna Al-Fatihah sebagai sistem, pada bab 6 menguraikan peta dan rambu-rambu Jalan Lurus kehidupan islami, sebagai implikasi dari seluruh ajaran Al-Fatihah. Kemudian diakhiri dengan bab 7, yang menampilkan testimoni inspiratif dari 12 orang muallaf dari 6 benua, yang telah pindah dari agama asal mereka dan memeluk Islam, setelah mempelajari Alquran (Al-Fatihah).
           
Di samping adanya kelebihan-kelebihan dari buku ini seperti diuraikan di depan, ia tidak luput beberapa kelemahan. Menggunakan pendekatan berpikir sistem di samping bernilai positif, namun istilah berpikir sistem sendiri bisa menjadi momok bagi  khalayaknya. Khususnya mereka yang belum familiar dengan konsep berpikir sistem.
 
Tebal buku yang 589 halaman, berpotensi membuat rasa ‘kalah sebelum bertanding’ bagi calon pembacaya. Khususnya mereka yang selalu sibuk atau tidak terlalu merasa at home membaca buku tebal.
            
Namun, secara keseluruhan, bagi mereka yang memiliki komitmen untuk terus belajar dan berupaya menjadi pribadi Muslim yang baik (bertakwa), ingin mengetahui peta, dan rambu-rambu Jalan Lurus dalam kitab sucinya, sehingga dapat menjalani kehidupan secara islami, maka buku ini adalah rujukannya yang tepat. Sehingga buku ini, sangat direkomendasikan untuk dibaca. (rep05)
 

[Ikuti Riaudaily.com Melalui Sosial Media]