Politik

Wah, Suara Prabowo Diperkirakan Hanya Unggul 1 Persen dari Jokowi

JAKARTA - Sejumlah hasil survey menunjukan tren kenaikan elektabilitas pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta. Lebih jauh, lembaga riset Political Communication Institute (PolcoMM) mencatat keunggulan untuk pasangan nomor urut dua tersebut dalam survey terakhir mereka dengan selisih 1,5 persen.
 
Dalam poling yang dilakukan pada 23-27 Juni tersebut, duet Prabowo-Hatta unggul atas kompetitornya pasangan Jokowi-JK dengan perbandingan 46,8 : 45,8 persen. Direktur PolcoMM Heri Budianto menjelaskan, sejumlah hal menjadi faktor di balik perubahan elektabilitas kedua pasangan.
 
"Salah satu  antaranya adalah faktor komunitas, seperti tatap muka, keluarga, lingkungan kerja dan lain-lain. Dan secara mengejutkan, perubahan tersebut juga dipicu penampilan para kandidat dalam siaran-siaran debat," ujar Heri dalam konfresi pers merilis hasil penelitian mereka di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (3/7).
 
Dalam presentasinya, Heri memaparkan elektabilitas Prabowo-Hatta terbaru naik sebesar 3,5 persen dibandingkan survey periode 16-20 Juni. Sebaliknya, elektabilitas pasangan Jokowi-JK turun 1,1 persen. 
Pada dua periode survey terakhir, PolcoMM mencatat terjadi penurunan jumlah undecided voters dari 10,3 persen menjadi 7,9 persen.
 
Dijelaskan Heri, survey dilakukan terhadap 1200 responden di 33 provinsi dengan teknik wawancara tatap muka. Menurut Heri, survey tersebut memiliki tingkat kepercayaan 95 persen, dengan margin of error 3 persen.
 
Konfrensi pers tersebut diikuti sesi diskusi yang dihadiri jajaran tinggi tim pemenangan kedua pasangan calon. Di kubu Prabowo-Hatta, hadir Fadli Zon dan Priyo Budi Santoso, sementara dari kubu Jokowi datang Akabar Faisal dan Eva Kusuma Sundari.
 
Akbar Faisal menanggapi hasil survey tersebut dengan nada cenderung tinggi, bahkan menanyakan kredibilitas Heri Budianto dan lembaga yang dia pimpin. "Maaf karena survey dilakukan di saat yang dramatis, saya juga akan menanggapinya secara dramatis. Sejauh mana Anda mendalami metode survey, sudah berapa lama lembaga Anda ini berdiri," ujar Akbar.
 
Salah satu kritik yang dialamatkan Akbar adalah jumlah sampel yang terlalu sedikit, serta menyebut adanya kecacatan. Akbar lalu menunjuk data pada layar yang menyuguhkan tabel perubahan perilaku pemilih berdasarkan latar belakang partai.
 
"Lihat ini saja sudah gagal total, masa pemilih Gerindra tetap seratus persen. Padahal di lapangan banyak pendukung Gerindra yang berpaling kepada kami," kata Akbar dengan nada bertekanan. (rep01/rpc)

[Ikuti Riaudaily.com Melalui Sosial Media]