Permainan Harga, Peternak Ayam Terancam Gulung Tikar

Dibaca: 393 kali  Kamis,25 Juli 2013 | 07:50:00 WIB

Permainan Harga, Peternak Ayam Terancam Gulung Tikar
Ket Foto :

TEBINGTINGGI-Sejumlah peternak ayam potong di Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti terancam gulung tikar akibat permainan harga yang tidak sehat oleh pihak peternak besar yang dikelola oleh sejumlah perusahaan dari luar daerah.

Kenapa tidak, pihak investor peternakan yang oleh kalangan peternak kecil disebut PT itu, menjual ayam-ayam mereka dalam jumlah besar dengan harga yang sangat murah.

Akibatnya, ayam milik peternak kecil tidak dilirik oleh pasar lantaran harga yang sedikit tinggi dan kalah dalam segi pemasaran.

‘’Kalau masalah ini dibiarkan terus berlarut, peternak kecil seperti kami ini bisa gulung tikar. Dulu begitu banyak peternak di sini, sekarang satu per satu sudah mulai beralih profesi dan meninggalkan usaha ternak karena merugi. Kalau tidak kuat modal bisa-bisa sebentar lagi semua peternak di sini gulung tikar. Beda dengan pedagang, mau naik atau mau turun harga tidak masalah,’’ keluh Ujang, salah seorang peternak dan pedagang ayam potong yang berdomisili di Kelurahan Kampung Baru, Selasa (23/7) malam.

Dijelaskan Ujang, saat ini pihak PT menjual ayam potong milik mereka seharga Rp13.000 per kilogramnya jika diambil dari Buton, Kabupaten Siak. Sementara jika sampai di Selatpanjang harga ayam merangkak naik walaupun sedikit.

‘’Jadi, biar dijual Rp11.000 pun per kilo, pihak PT masih tetap mendapatkan untung karena pihak perusahaan memproduksi bibit dan memasok pakan sendiri. Berbeda dengan ayam lokal yang diambil dengan harga Rp17.000 per kilogram untuk hari-hari biasanya dan harga tersebut semakin naik seperti saat-saat seperti ini,’’ ucap Ujang lagi dilansir riaupos.co.id.

Peternak kecil (lokal) seperti mereka, kata Ujang, tidak bisa menjual dengan harga begitu karena hitungannya masih merugi. Sebab bibit yang dibeli harganya mahal, begitu juga dengan pakan.

Belum lagi dihukum dengan kondisi kematian ternak (bibit). Kondisi inilah yang menghukum peternak lokal sejak dulu dan sampai sekarang belum ada formula yang ampuh dalam mengatasi masalah ini.

Karenanya, dia berharap pemerintah melalui instansi terkait peduli dengan persoalan tersebut.(rep2)

Akses Detakpekanbaru.Com Via Mobile m.detakpekanbaru.com
Berita Terkait
Tulis Komentar
Berita Terkini